Category archive

Seni Budaya - page 3

Seputar perkembangan seni dan budaya, tokoh-tokoh, giat dan peristiwa seni dan budaya di Kabupaten Ngawi

Pemkab Ngawi Boyong Keris Kanjeng Kyai Parikesit, Pusaka Baru Simbol Agraris dan Inovasi

di %s Bakohumas/Berita/Kabar Kita/Kabar Ngawi/Pemerintahan/Seni Budaya 480 views

Momentum peringatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 menjadi catatan bersejarah bagi Pemerintah Kabupaten Ngawi dengan diboyongnya Pusaka Keris Kanjeng Kyai Parikesit. Prosesi sakral yang berlangsung di Pendopo Wedya Graha, Rabu (1/7/2026) malam, menjadi wujud komitmen pemerintah daerah dalam menjaga, melestarikan, sekaligus mewariskan khazanah budaya adi luhung sebagai bagian dari identitas dan perjalanan Kabupaten Ngawi.

Keris Kanjeng Kyai Parikesit dihadirkan sebagai piandel agung sekaligus melengkapi empat pusaka daerah yang telah dimiliki sebelumnya, yakni dua pusaka tombak dan dua pusaka songsong. Selanjutnya, pusaka tersebut akan disemayamkan di Gedung Pusaka Kabupaten Ngawi sebagai tetenger perjalanan sejarah di setiap periode pemerintahan. Prosesi penyerahan disaksikan Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono bersama jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Mokh. Sodiq Triwidiyanto, Ketua DPRD Ngawi Yuwono Kartiko, Kepala Kejaksaan Negeri Ngawi B. Hermanto, kepala perangkat daerah, Empu Sanggar Kris Mataram, Ki Nurjianto (Gus Poleng), serta seluruh camat se-Kabupaten Ngawi yang turut membawa tanah dan air dari wilayah masing-masing sebagai simbol persatuan masyarakat Ngawi.

Bupati Ngawi menegaskan, pemboyongan pusaka tersebut merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga, melindungi, dan melestarikan warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Awal dari niatan ini adalah agar khazanah budaya kita tetap terjaga. Kita tidak hanya sekadar merawat (memetri-metri) secara berkala, tetapi memastikan keberlangsungan warisan budaya ini agar terus lestari ke depan,” ujarnya.

Keris Kanjeng Kyai Parikesit ditempa secara khusus oleh empu Sanggar Kris Mataram Yogyakarta, Sukoyanto atau yang akrab disapa Gus Poeng. Pusaka ini berbentuk keris lurus dengan Dhapur Mahesa Teki, memadukan besi, baja, pamor nikel, serta unsur besi yang diambil langsung dari bumi Ngawi sebagai penanda lokalitas daerah.

“Mahesa atau kerbau merupakan representasi masyarakat agraris. Hal itu sangat selaras dengan karakter Kabupaten Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Dalam sejarah Nusantara, Mahesa juga menjadi gelar kehormatan bagi para pemimpin,” jelas Gus Poeng.

Lebih lanjut, Gus Poeng menerangkan bahwa nama Parikesit yang dalam bahasa Sanskerta berarti “Sang Pencari” menggambarkan semangat untuk terus mencari kebaruan dan melahirkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam kisah pewayangan, Parikesit juga dikenal sebagai sosok yang membawa harapan baru di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian zaman.

“Harapannya, filosofi Kanjeng Kyai Parikesit dapat menjadi penyemangat bagi birokrasi maupun masyarakat Ngawi untuk tetap kokoh menjaga jati diri sebagai daerah agraris, terus berinovasi, serta mampu menjadi pembawa harapan dalam menghadapi tantangan zaman,” ungkapnya.

Melalui pemboyongan Pusaka Kanjeng Kyai Parikesit, Pemerintah Kabupaten Ngawi berharap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah akan semakin kuat apabila berakar pada identitas budaya, semangat inovasi, serta kebersamaan seluruh elemen masyarakat.

Sebar dan Bagikan :

Shares

Sarat Nilai Budaya dan Tradisi, Ganti Langse Perkuat Jati Diri Bangsa di Era Digital

di %s Bakohumas/Berita/Kabar Kita/Kabar Ngawi/Pemerintahan/Seni Budaya 400 views

Menyambut Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668, Pemerintah Kabupaten Ngawi kembali menggelar tradisi adat Ganti Langse di Palereman Agung Srigati, Desa Pakatan, Senin (29/6/2026) malam. Kegiatan yang dihadiri Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono didampingi jajaran Forkopimda serta diikuti masyarakat setempat tersebut menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya dan jati diri bangsa di tengah perkembangan era digital.

Dalam sambutannya, Bupati Ony mengapresiasi masyarakat dan para sesepuh yang terus nguri-uri atau melestarikan warisan budaya leluhur. Menurutnya, tradisi yang rutin dilaksanakan setiap 15 Muharram atau saat bulan purnama (bulan ndadari) ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan memiliki esensi filosofis yang mendalam bagi kehidupan.

“Ganti Langse ini adalah lambang hijrah. Setahun yang lalu, jika ada salah dan khilaf, maka pada malam hari ini kita berniat untuk mensucikan hati. Kain yang lama diganti dengan yang baru, yang putih, bersih, dan suci,” ujar Ony.

Ia berharap momentum tersebut menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperbaiki diri dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.

Lebih lanjut, Ony menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk terus mendukung pelestarian budaya dan kesenian sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.

“Di era yang serba digital ini, jangan sampai generasi penerus kehilangan arah dan melupakan jati dirinya. Budaya lokal harus menjadi benteng pertahanan karakter bangsa,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penggantian kain langse secara khidmat oleh para juru kunci bersama masyarakat yang memadati kawasan Palereman Agung Srigati. Melalui tradisi yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi berharap nilai-nilai budaya, semangat persatuan, dan keguyuban masyarakat tetap terjaga sebagai fondasi pembangunan daerah yang maju, harmonis, dan berkelanjutan.

Sebar dan Bagikan :

Shares

Bersih Desa Pancuran, Pemkab Ngawi Perkuat Sinergi Pelestarian Lingkungan dan Kearifan Lokal

di %s Bakohumas/Berita/Kabar Kita/Kabar Ngawi/Pemerintahan/Seni Budaya 608 views

Pemerintah Kabupaten Ngawi kembali memperkuat komitmen pelestarian lingkungan dan sumber air melalui kegiatan Bersih Desa Pancuran yang digelar di Dusun Pancuran, Desa Pacing, Kecamatan Padas, Senin (13/4/2026). Kegiatan tersebut dipusatkan di Sumber Yuyu Rumpung sebagai salah satu sumber air strategis bagi masyarakat.

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, menegaskan bahwa tradisi bersih desa tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, khususnya sumber daya air.

“Tradisi bersih desa ini memiliki tujuan yang sangat mulia. Tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai wujud doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan kesehatan, kesejahteraan, serta kemudahan rezeki,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan Sumber Yuyu Rumpung memiliki nilai strategis karena menjadi penopang kebutuhan air bersih masyarakat, termasuk mendukung layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di dua kecamatan.

“Keberadaan sumber air ini harus kita jaga bersama. Tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dirawat melalui langkah konkret seperti penghijauan dengan tanaman yang mampu menyimpan air,” tegasnya.

Lebih lanjut, Pemkab Ngawi akan terus mendorong sinergi lintas sektor, termasuk dengan PDAM, dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat.

Selain itu, pihaknya mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat Dusun Pancuran yang secara konsisten melaksanakan tradisi bersih desa setiap tahun. Hal tersebut dinilai mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan masih terjaga dengan baik. Ini menjadi modal sosial yang penting dalam pembangunan daerah,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Ngawi berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan dapat terus diperkuat guna menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus melestarikan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Sebar dan Bagikan :

Shares

Gelar Budaya Minggu Kliwonan Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Lokal Ngawi

di %s Bakohumas/Berita/Kabar Kita/Kabar Ngawi/Pemerintahan/Seni Budaya 621 views

Seni tradisi masih menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam menjaga kebudayaan lokal. Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui Gelar Budaya Minggu Kliwonan yang dilaksanakan di Kompleks Kepatihan Ngawi, Minggu (14/12/2025), sekaligus menggerakkan roda perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Untuk kedua kalinya, agenda ini menjadi ruang temu komunitas seni dan wadah ekspresi budaya yang berkesinambungan. Kegiatan Minggu Kliwonan kali ini dimulai dengan Festival Dalang yang diikuti tujuh peserta dari jenjang SD dan SMP, dilanjutkan dengan pagelaran Wayang Thoprak, serta turut dihadiri Anggota DPR RI Budi Sulistyono, jajaran perangkat daerah, camat, dan perangkat desa.

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan realisasi aspirasi komunitas seni di daerah.

“Kegiatan Minggu Kliwonan ini menjadi ruang bersama bagi komunitas seni untuk terus berkarya, sekaligus sarana menjaga keberlanjutan seni tradisi agar tetap hidup dan dikenal generasi muda,” ujarnya.

Ia menegaskan, kegiatan Minggu Kliwonan berlandaskan tiga tujuan utama, yakni penguatan komunitas seni, penyediaan wadah ekspresi seni yang berkesinambungan, serta pelestarian budaya melalui pencarian dan pembinaan bibit-bibit talenta seni, khususnya generasi muda.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ngawi Kabul Tunggul Winarno menyebutkan bahwa fasilitas di Kepatihan akan terus ditingkatkan. Renovasi pendopo induk dan penambahan sarana penunjang direncanakan pada tahun anggaran mendatang agar kawasan tersebut semakin representatif sebagai pusat kegiatan budaya.

Selain aspek budaya, kegiatan ini juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Harapan kami kegiatan di Kepatihan ini bisa berdampak ekonomi bagi seluruh pelaku usaha, mulai dari pedagang kecil,” kata Kabul.

Dengan dilaksanakannya kegiatan Minggu Kliwonan ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi berharap pelestarian seni tradisi lokal dapat terus berlanjut, sekaligus menjadi angin segar bagi pelaku UMKM serta ekonomi kreatif untuk tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Sebar dan Bagikan :

Shares
Go to Top