INFORMATIF, INSPIRATIF, MENCERAHKAN

Gumbrekan Mahesa, Alternatif Tingkatkan Potensi Desa

di Seni Budaya/Wisata Ngawi oleh

Salah satu alternatif
meningkatkan kemandirian ekonomi desa dapat dilakukan dengan memanfaatkan
potensi kearifan lokal, tentunya hal ini bisa menjadi modal penting dalam
mempercepat pembangunan desa. Pasalnya, dengan menitikberatkan pada kekuatan
lokal ini lebih memungkinkan mendapatkan hasil sebab didasarkan pada
pengalaman, pengetahuan, kebiasaan, serta kebutuhan masyarakat setempat.

Seperti yang dilakukan di
dusun Bulak Pepe desa Banyubiru Kecamatan Widodaren, dengan, tradisi Gumbrekan Mahesa yang awalnya hanya
sebagai tradisi rutin dilakukan setiap pasca panen oleh penduduk setempat,
sebagai wujud syukur kepada yang kuasa, kini dikemas dengan nuansa berbeda
tanpa menghilangkan makna yang sesungguhnya.

Seperti yang diungkapkan
Kepala Desa Banyubiru, Kundari bahwa Gumbrekan
Maheso
ini nilai kerbau akan semakin terangkat, tidak hanya sebagai hewan angonan saja, “Tetapi menjadi potensi
bernilai bagi kami, yang nantinya ada daging dan kulit Kerbau yang dijual
disini, selain itu juga bisa mengangkat harganya,” kata Kundari, Minggu
(10/11).

Disebut Kampung Kebo karena di dusun ini terdapat kerbau kurang lebih lima
ratusan yang dipelihara 72 kepala keluarga.

Wakil Bupati, Ony Anwar yang
turut hadir dalam acara ini menyampaikan apresiasinya untuk Kelompok Sadar
Wisata desa Banyubiru yang konsisten mengadakan acara ini tiap tahun. Wabup
berharap event ini mampu mengangkat
potensi wisata di desa ini. “Dengan komitmen dan konsistensi Pokdarwis, Pemerintah
Daerah serta KPH Ngawi, kami harapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak
positif bagi warga disini,” ujar Ony Anwar.

Selain itu, Wabup meminta
tradisi ini bisa menjadi khasanah tourism
atau kawasan pariwisata didesa yang juga terkenal akan batik tulisnya ini,
“Semoga kedepan bisa lebih meriah lagi dari tahun sebelumnya. Sehingga kegiatan
seperti ini dapat menambah income
masyarakat,” katanya.

Sementara Administratur Perhutani KPH
Ngawi Haris Suseno menambahkan dengan sinergi yang baik, kedepan agenda seperti
ini akan lebih bisa berkembang dan meningkat lagi, “Terimaksih atas dukungan
dan kerjasamanya, kedepan tentunya akan lebih bagus lagi,” tuturnya.

Sebelumnya,
acara ini diawali dengan arak – arakan kerbau dan diikuti
seribu tumpeng dari lapangan desa menuju kadang kerbau. Kemudian secara
simbolis, Wabup melakukan pemotongan tumpeng, yang kemudian dibagikan ke warga
yang hadir dalam tradisi ini, serta diwaktu bersamaan kerbau – kerbau ini diguyang (mandi, red) disungai yang
kemudian pulang kembali kekandangnya.

Meski
selama acara berlangsung matahati cukup terik, namun tidak mengurangi
antusiasme penonton menyaksikan acara berlangsung hingga berakhir jelang senja.
(allteam/kominfo)

Leave a Reply

Terkini Dalam Seni Budaya

Go to Top