Perkuat Layanan Kesehatan Mata Inklusif, Pemkab Ngawi Optimalkan Kolaborasi Lewat Program I-SEE

di %s Bakohumas/Berita/Kabar Kita/Kabar Ngawi/Pemerintahan 215 views
Banner

Pemerintah Kabupaten Ngawi terus mengoptimalkan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat layanan kesehatan mata yang inklusif melalui Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE). Komitmen tersebut ditegaskan dalam Diskusi Publik bertajuk Menjamin Keberlanjutan Layanan Kesehatan Mata Inklusif untuk Semua Warga Ngawi yang digelar di Aula Notosuman, Senin (29/6/2026).

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko menegaskan, kesehatan mata merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehingga layanan kesehatan harus mampu menjangkau seluruh warga, termasuk kelompok rentan.

“Kalau kita bicara inklusivitas, maka pemerintah daerah harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat marginal, penyandang disabilitas, serta mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, prevalensi gangguan penglihatan di Kabupaten Ngawi yang mencapai sekitar 4,4 persen atau berada di atas rata-rata nasional menjadi tantangan yang harus direspons melalui penguatan upaya promotif, preventif, deteksi dini, hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan mata.

Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngawi juga mendorong percepatan penyusunan Peraturan Bupati sebagai landasan hukum dalam memperkuat kebijakan, perencanaan, dan penganggaran layanan kesehatan mata yang inklusif.

Sementara itu, Direktur Yayasan Paramitra Indonesia, Aisyah, mengatakan Program I-SEE yang berlangsung pada 2024–2027 difokuskan pada penguatan sistem layanan kesehatan mata melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penyediaan alat pemeriksaan dasar di puskesmas, pelatihan kader kesehatan dan guru untuk deteksi dini gangguan penglihatan, serta penguatan sistem rujukan.

“Prevalensi gangguan penglihatan di Jawa Timur masih mencapai 4,4 persen. Penanganannya tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas perangkat daerah dan seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi strategis ini, diharapkan layanan kesehatan mata yang inklusif dapat terus diperkuat sehingga seluruh masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan mata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Sebar dan Bagikan :

Shares