INFORMATIF, INSPIRATIF, MENCERAHKAN

Daily archive

August 13, 2019

Eksistensi Keduk Beji di Tengah Globalisasi

di Seni Budaya oleh

Seiring
kemajuan era digitalisasi saat ini, tentunya bisa menjadi ancaman bagi
eksistensi jati diri bangsa, yang bisa tercermin dari semakin tergesernya
budaya lokal atau tradisi oleh budaya global. Belum lagi, generasi muda
sekarang sebagai produk modern yang tidak begitu tertarik terhadap sesuatu yang
berbau tradisi, bahkan
lebih dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

Kondisi
inilah yang terus mendorong Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk terus berkomitmen dalam
melestarikan tradisi, juga sebagai upaya akselerasi pembangunan di sektor
pariwisata. Adalah Keduk Beji atau upacara adat bersih sendang, yang
digelar warga desa Tawun Kecamatan Kasreman, Selasa (13/8) lalu.

Tradisi leluhur ini terus dilakukan hingga sekarang, sebagai wujud
peringatan hilangnya, Raden Ludrojoyo yang hilang saat Tapa Kungkum (berendam) di Sendang Tawun. Upacara adat ini,
biasanya digelar tiap hari Selasa Kliwon jelang bulan Sura berdasarkan perhitungan kalender Jawa Islam.

Menurut Supomo, sesepuh desa Tawun mengatakan tradisi ini sudah
sejak lama dilakukan untuk mengenang hilangnya Raden  Ludrojoyo yang berani mengorbankan jiwa dan
raganya dengan bertapa, memohon kepada yang kuasa untuk menghidupkan
mata air didesa ini,” cerita Mbah Wo sapaan akrabnya.

Konon,
tepat di hari Selasa Kliwon, tepat pukul 00.00, terdengar ledakan keras, yang
disertai keluarnya air dari tempat Ludrojoyo bertapa, muncul sumber air, “Sejak
saat itulah, peringatan Keduk Beji ini dilakukan untuk membersihkan sendang
Tawun ini,” lanjutnya.

Upacara
sakral ini, diawali dengan pengedukan
atau dibersihkannya sendang (kolam,red)
dari kotoran. Uniknya, hanya boleh dilakukan oleh kaum laki – laki, dengan
mengambil semua kotoran yang ada disitu dengan saling memukul menggunakan ranting yang diiringi tabuhan
gendang
. Supomo mengatakan, saling pukul atau istilah yang dipakai disini kecetan difilosofikan sebagai sikap legowo, tidak boleh mendemdam satu sama
lain, “Mereka joget juga, waktu
pembersihan ini,” katanya.

Kemudian upacara dilanjutkan dengan tari persembahan Galih Nogo Seno, lalu penyileman (menyelam pusat sumber air, untuk mengganti kendi yang dilakukan oleh keturunan Ludrojoyo. “Syaratnya harus laki – laki dan siap untuk nyilem. Sebab, nggak semua keturunannya siap,” jelas Mbah Wo.

Mbah
Wo menuturkan setelah nyilem diteruskan
upacara penyiraman air legen (air
dari buah Siwalan,red) ke dalam sumber air, “Kemudian  menyeberangkan sesaji dari arah timur ke
barat sumber air, berupa daging Kambing kendit,
ini harus ada tidak boleh nggak ada,”tandasnya.

Prosesi
ini ditutup dengan selamatan serta makan berkat
(makanan, red) gunungan lanang  dan wadon
yang disediakan warga yang dipercaya bisa mendapatkan berkah.“Makanan untuk
selametan disediakan warga sekitar yang leluhurnya dimakamkan di area Tawun
ini,” tuturnya.

Hadir
dalam acara tradisi ini, Bupati Ngawi, Budi Sulistyono didampingi Wakil Bupati
Ngawi, Ony Anwar bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Ngawi,
jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Ngawi, sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Bupati
Ngawi, Budi Sulistyono mengatakan upacara adat ini akan dikembangkan terus
karena potensinya sangat luar biasa, “Ini tidak hanya sekedar melestarikan
budaya tetapi juga untuk mengembangkan potensi pariwisata disini,” ungkapnya.

Budi
Sulistyono menjelaskan sektor wisata mampu menjadi sumber ekonomi dan
pemberdayaan masyarakat, “Kita akan kembangkan lagi lebih tajam, menjadi sumber
wisata dan ekonomi,” lanjutnya.

Senada
dengan Bupati Ngawi, Plt. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Raden
Rudi Sulisdiana mengatakan kedepannya tradisi ini akan dikembangkan dan
dilestarikan, bahkan dipatenkan, “Keduk Beji menjadi salah satu ikon wisata di
Kabupaten Ngawi, yang akan di patenkan. Kami akan presentasikan di Jakarta
dalam waktu dekat ini, sehingga tidak bisa diklaim daerah lain,” ungkap Raden
Rudi.

Acara
tahunan ini, mampu menyita perhatian masyarakat, tidak hanya sekitar tetapi
juga luar daerah, terlihat dari berjubelnya penonton ketika prosesi dimulai.
(nf/la/kominfo)

Go to Top