Cagar Budaya Berarsitektur Belanda

di Berita oleh
Banner

Benteng Van Den Bosch atau yg lebih sering dikenal dengan sebutan Benteng Pendhem. Yg dulunya telah berpuluhan tahun tertutup untuk umum, kini masyarakat sudah bisa menyinggahinya kembali. Cagar Budaya yg cukup besar dan berarsitektur belanda ini berdiri diatas lahan sekitar 18 Hektar  dengan menyuguhkan kemegahan cagar budaya yg luar biasa, Bangunan bersar yg berarsitekturkan kolonial hindia-belanda. Bangunan ini didirikan sekitar abad ke 18, tepatnya pada tahun 1839 hingga 1845 oleh Gubernur Jendral Defensieljn Van Den Bosch. Masih tampak jelas, tembok dan tiang penyangga masih berdiri kokoh. Begitu juga dengan bangunan yang ada disekitarnya belum luntur kemakan Jaman.

Bagi warga Ngawi Bangunan ini sudah tidak menjadi bagian yg asing lagi. Bangunan kuno berarsitektur belanda ini terletak diareal pertemuan aliran Bengawan Solo dengan Sungai Madiun. Tepatnya di Kelurahan Pelem Kec. Ngawi. Dahulu kala bangunan ini didirikan sebagai zona pertahanan oleh Kolonial belanda yg memanfaatkan keberadaan Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Sebab dengan adanya aliran sungai ini tak hanya memudahkan dalam hal transportasi saja, akan tetapi juga bisa untuk memperlamban dan melumpuhkan pihak lawan jika melakukan penyerangan. Begitu juga dengan berdirinya menara pengintai yg kebanyakan menghadap ke Bengawan dan Sungai.

Sejak tahun 1962 Benteng Van den Bosch dijadikan markas Yon Armed 12 untuk kegiatan latihan militer dan kesatuan juga dipusatkan keareal pendhem. Yang sebelumnya bertempat di Kec. Rampal, Kab. Malang.

Dikarenakan kondisi bangunan yg kurang mendukung untuk perkembangan dan kemajuan kesatuan, akhirnya pada 10 tahun kemudian yon Armed 12 menempati lokasi baru di Jalan Siliwangi. Namun sebagian areal Benteng masih menjadi gudang persenjataan, yg itu juga mengapa selama puluhan tahun tempat ini tertutup untuk umum.

Baru tahun inilah Gudang persenjataan itu bisa dipindahkan sepenuhnya kemarkas barunya. Karena dianggap sebagai Cagar Budaya yg bisa dilestarikan, akhirnya bangunan ini akan bisa beralih fungsi menjadi objek wisata Sejarah. Semenjak setengah bulan yg lalu bangunan kolonial Hindia-Belanda ini sudah bisa dinikmati masyarakat luas. “Masyarakat bisa berkunjung untuk melihat dan mengetahui kondisi bangunannya dan juga kita akan dipandu untuk mendapatkan wawasan yg lebih luas.” Terang Mayorm Arm Sugeng Riyadi komandan Yon Armed 12 Ngawi.

Hanya saja dari beberapa tempat lokasi bangunan ada yg mengkhawatirkan sebagai persinggahan warga, Fisik bangunan yg dianggap sangat membahayakan. Ada keretakan yg dikhawatirkan berpotensi bangunan roboh. “Meskipun kami memasang tiang penyangga, tapi masih riskan material bangunan berjatuhan. Untuk itulah, kenapa prajurit yg berjaga dipintu masuk selalu kami stan by kan untuk memandu pengunjung,” katanya.

Sebar dan Bagikan :

0Shares
0 0

Leave a Reply