Kabupaten Ngawi, Raih Penghargaan Pencapaian Peningkatan Produksi Padi Tingkat Nasional “Bupati Ngawi, Dapatkan Anugrah Pin Emas Kementan”
Di hari Jadinya yang ke 660, kembali Kabupaten Ngawi raih penghargaan tingkat nasional, kali ini adalah Penghargaan Pencapaian Peningkatan Produksi Padi. Penghargaan ini diberikan oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS. DAA kepada Bupati Ngawi, Ir. Budi Sulistyono berupa pin emas pada acara Evaluasi Luas Tambah Tanam (LTT) Padi, Jagung, Kedelai Provinsi Jawa Timur, dan Persiapan Penyusunan angka ramalan (Aram) I tahun 2018 di Hotel Aria Gajayana Malang, Kamis (12/07).
Penghargaan yang diberikan Kementerian Pertanian ini didasarkan pada Evaluasi Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi padi, jagung dan kedelai Tahun 2017 yang mengalami peningkatan produksi dari tahun sebelumnya di seluruh Indonesia. Menurut Bupati saat ditemui usai acara pembukaan Rapat Koordinasi Pengendalian Triwulan II di Gedung Kesenian, Rabu (1/8), mengatakan penghargaan ini didapatkan karena Kabupaten Ngawi, mampu mengkonversikan program pemerintah pusat, “Konsentrasi kita terhadap kedaulatan pangan yang digagas Pemerintah pusat cukup besar, bagaimana kita meningkatkan hasil padi dan luas wilayah tanam sekaligus mengurangi mata rantai import beras cukup besar, ” kata Bupati.
Bupati juga sampaikan untuk bisa mencapai kedaulatan pangan seperti yang diinginkan sebenarnya kuncinya selalu melakukan komunikasi dengan kelompok tani, disamping itu juga mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian pupuk kimia, karena selama ini cukup besar penggunaannya. “Makanya sedikit demi sedikit kita kurangi agar ketergantungan itu ada atau terlalu banyak,” ungkap Budi Sulistyono. Hingga muncul ide petani organik, dengan teori obat nyamuk. “Kalau satu ikut, sekitarnya pasti juga akan mengikutinya,” lanjutnya.
Masih menurut penuturan Bupati, pertanian organik mampu menangkal jika ada inflasi termasuk di daerah “Pertanian organik lah yang tahan inflasi termasuk di Kabupaten Ngawi. Hal inilah yang mendapat perhatian, walaupun kita hanya dapatkan nominasi, tapi cukup membanggakan,” ujarnya.
Disinggung soal lahan pertanian yang belakangan banyak gunakan untuk permukiman ataupun industri, Bupati Ngawi katakan bahwa hal itu tidak dapat dihindari karena perkembangan saat ini. “ Yang kita tekankan adalah bagaimana memperluas lahan tanamnya bukan luas lahannya,” tandasnya. Strateginya dengan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif secara optimal, “Meskipun banyak lahan kita ini terkurangi jalan tol, tapi dengan pemanfaatan itu kita mampu menambah 10 ribu hektar luas tanam. Disamping itu, kita juga adakan kerjasama dengan Perhutani, untuk bisa dimanfaatkan lahannya yang belum ditanami jati,” beber orang nomor satu di Ngawi ini.
Meningkatnya produksi padi tidak terlepas dari keberhasilan pelaksanaan program peningkatan LTT Kabupaten Ngawi pada tahun 2017, bahwa Kabupaten Ngawi mampu menambah luas tanam padinya. Bupati berharap dengan penghargaan ini dapat menjadi motivasi untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi padi serta juga komoditi pertanian lainnya karena Kabupaten Ngawi miliki potensi di bidang pertanian. Hadir dalam acara ini Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Kepala Bidang Tanaman Pangan Kabupaten/Kota se Jawa Timur. (Kominfo)
Menurut Bupati Ngawi, Ir. Budi Sulistyono, pusaka – pusaka ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat Ngawi, terkait tahapan terbentuknya Pemerintahan Kabupaten Ngawi. “Mulai dari dusun, desa hingga mulai terbangun sebuah pemerintahan serta mendapatkan pengakuan dilingkup Matraman, disitulah bibit kawit Pemerintahan kita saat ini,” jelas Bupati
Dan, kirab pusaka ini dimaknai sebagai penjemputan pusaka di leremkan semalam di pendopo Ngawi Purba, dibawa kembali ke Pendopo Wedya Graha. “Bagi leluhur kita, pusaka ini merupakan sebuah kekuatan, dan kita tidak bisa melupakan adat istiadat. Maka inti dari tradisi ini adalah uri – uri, jangan sampai kita melupakan sejarah, sebab merupakan bagian dari perjalanan kita membangun sebuah peradaban,” ujarnya.
Prosesi dimulai sekitar pukul 08.00, dengan penyerahan pusaka yang dilakukan Kepala Desa Ngawi Purba kepada pusaka Kabupaten Ngawi di depan Pendopo Ngawi Purba. Perjalanan kirab ini menempuh jarak sekitar lebih dari lima kilometer. Penyerahan pusaka dilakukan di depan paseban oleh sesepuh Ngawi kepada Bupati dan Wakil Bupati, yang selanjutnya diserahkan kembali ke parogo, dikirab menuju gedung pusaka Pendopo Wedya Graha. (Kominfo)
Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ngawi ke 660 tahun 2018 ini, Bupati Ngawi, Budi Sulistyono, Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar, Ketua DPRD Ngawi Dwi Riyanto Jatmiko bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Ngawi lakukan ziaran makam leluhur pendiri Ngawi, Senin (2/7). Diantaranya makam RM. Tumenggung Poerwodiprodjo (Bupati Ngawi 1887-1902), makam R. Adipati Kertonegoro, makam Patih Pringgo Koesoemo, serta makam R. Patih Ronggolelono dan Putri Cempo.
Rombongan ziarah ini diawali di makam RM. Tumenggung Poerwodiprodjo, TPU Kauman belakang Masjid Agung Ngawi dengan doa bersama dan tabur bunga, kemudian dilanjutkan ke Ngawi Purba makam Patih Pringgo Koesoemo dan berlanjut ke TPU Sine, makam Raden Adipati Kertonegoro dan berakhir di TPU Jabal Kadas Hargomulyo Ngrambe makam Patih Ronggolelono dan Putri Cempo selanjutnya rombongan menuju Ngawi. kominfo
Tahun 2018 ini, tepat Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke 110, Pemerintah Kabupaten Ngawi menggelar upacara peringatan di halaman Pendopo Wedya Graha, Senin (21/5), Bupati Ngawi, Ir. Budi Sulistyono sebagai pembina upacara. Hadir dalam upacara peringatan Harkitnas ini, Sekretaris Daerah Ngawi, Mokh. Sodiq Triwidiyanto, Ketua DPRD Ngawi, Dwi Rianto Djatmiko, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan anggota Kodim 0805 Ngawi.
Lebih lanjut juga disampaikan bahwa sumber daya alam (SDA) merupakan sumber daya terbatas, sedangkan SDM terfasilitasi dengan kapasitas serta kapabilitas yang luas untuk dikembangkan. Apalagi di era sekarang, dan bukan saatnya untuk berdiam namun jangan buang waktu dan energi fokus pada pengembangan, “ Filosofi sapu lidi juga harus dimaknai secara bijak untuk saling merangkul, jangan sampai tercerai berai karena provokasi. Dan, keberadaan bonus demografi yang menyuguhkan keuntungan harus bisa dimanfaatkan secara produktif,” tuturnya.