Category archive

Berita - page 551

Salah Kaprah, Internet Indonesia Lamban

di %s Berita/Informasi 461 views

Indonesia dianggap salah kaprah dalam menerapkan broadband internet. Akibatnya, koneksi internet terasa lambat.

Hal itu mencuat dalam diskusi yang digelar Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di Hotel InterContinental, Jakarta, Rabu (15/2/2012).

“Sekitar 95 persen koneksi internet di Tanah Air masih memakai koneksi wireless, sisanya memakai kabel. Indonesia itu salah kaprah,” kata Chairman Mastel Setyanto P Santosa.

Menurutnya, teknologi wireless itu didesain untuk low traffic. Namun, di Indonesia, koneksi itu malah digunakan untuk traffic tinggi. Akibatnya, koneksi internet di Indonesia terkesan lambat.

Padahal, kata Setyanto, sebagai negara berkembang, justru koneksi fixed broadband yang harus diperbesar, bukan malah koneksi wireless.

Mastel mendesak pemerintah untuk segera membangun jaringan fixed broadband, baik yang berbasis kabel maupun serat optik, untuk koneksi internet di Tanah Air.

Setyanto menjelaskan, selama ini pemerintah terkesan lepas tangan dalam membangun infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Semua kesannya diserahkan kepada operator dan swasta.

Dengan fixed broadband, koneksi internet akan jauh lebih cepat dan lebih stabil dibandingkan dengan wireless broadband.

Jumlah pengguna internet bergerak (mobile) di Indonesia pada 2010 sekitar 39,6 juta pengguna. Diperkirakan pada 2015, jumlah pengguna internet bergerak di Tanah Air akan mencapai 145,2 juta pengguna.

Sementara pengguna satuan sambungan telepon (SST) atau fixed line pada saat ini hanya tidak lebih dari 15 juta pengguna.

Skema yang bisa diterapkan

Seharusnya, Indonesia juga mencontoh Australia yang telah membangun jaringan fixed broadband untuk warganya.

Konsep yang ditawarkan Negeri Kanguru itu menyerahkan segala pembangunan fixed broadband kepada semacam badan usaha milik daerah (BUMD).

Cara yang sama juga telah diterapkan di Perancis. Negara tersebut memakai pola pendanaan dari public private partnership (PPP).

Di Indonesia, PPP tidak diterapkan di industri telekomunikasi. Adanya justru di industri listrik.

“Padahal, kalau mau gampang, seharusnya tinggal copy paste saja dari PPP listrik itu. Saya sudah koar-koar 4-5 tahun lalu, tetapi tidak ada yang menggubris,” katanya.

Untuk bisa membangun fixed broadband tersebut, pemerintah bisa mendapatkan dana dari ICT Fund. Walau dana ICT Fund tersebut berasal dari uang operator yang dititipkan kepada pemerintah.

Setyanto mengaku, perpaduan dana dari pihak pemerintah dan swasta ini bisa digunakan untuk membangun fixed broadband agar koneksi internet di masyarakat bisa terjaga.

“Komposisi pendanaannya tidak harus berbagi rata dengan pemerintah dan operator. Namun, kalau operator itu kuat, dia bisa membangunnya sendiri,” tuturnya.

Kenapa harus “fixed broadband”?

Jaringan fixed broadband diyakini akan memberikan kecepatan dan kestabilan koneksi internet lebih baik dibandingkan dengan jaringan wireless.

Oleh karena itu, pembangunan fixed broadband dinilai lebih penting. Terutama mengingat kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulau.

“Tapi yang lebih penting adalah industri konten akan tumbuh, seperti game dan musik yang menggunakan koneksi internet,” kata Setyanto.

Saat ini, koneksi internet cenderung menjadi kebutuhan masyarakat. Masyarakat juga mengakses konten hiburan yang memerlukan kecepatan dan kestabilan koneksi internet.

Senior Consultant ICT Practice Frost & Sullivan, Iwan Rachmat, menambahkan, perkembangan fixed broadband akan menambah lalu lintas e-commerce di Tanah Air.

“Ke depan industri e-commerce akan tumbuh signifikan, tetapi syaratnya harus didukung oleh koneksi internet yang cepat dan stabil,” ungkap Iwan.

Para operator pun akan menggenjot pembangunan infrastrukturnya, terutama fixed broadband, karena tertarik oleh pengguna pasar data yang semakin besar. (KompasTekno)

Sebar dan Bagikan :

Shares

Isi Baterai Ponsel dan Laptop Kini Bisa Tanpa Kabel

di %s Berita/Informasi 479 views

Kemajuan teknologi memang semakin memudahkan manusia, kali ini mengenai pengisian daya baterai berbagai perangkat secara wireless alias tanpa kabel.

Dengan teknologi dan perangkat yang dikembangkan WiTricity Corp, Anda bisa mengisi daya baterai (charging) ponsel, konsol game, laptop, bahkan kendaraan listrik hanya dengan koneksi wireless yang tidak membutuhkan kabel.

“WiTricity Corp bekerja untuk membuat masa depan ini menjadi kenyataan, mengembangkan teknologi kelistrikan wireless yang akan beroperasi aman dan efektif dalam jarak jangkauan dari sentimeter hingga beberapa meter–dan akan mengirimkan listrik dari miliwatt hingga kilowatt,” tulis WiTricity dalam penjelasannya di website resmi mereka.

Menurut WiTricity, perangkat ini aman bagi binatang piaraan maupun manusia, tingkat efisiensinya pun tinggi.

Komponen berbentuk kotak hitam menyerupai bingkai foto itu bisa menyalurkan listrik tanpa kabel ke perangkat-perangkat di rumah, meski di dalam ruang berbeda, dengan jarak tertentu sesuai daya jangkau alat itu.

WiTricity mengatakan, perangkatnya itu sudah akan tersedia di pasar akhir tahun ini dan dalam dua tahun mendatang teknologi serupa dapat digunakan untuk mengisi daya baterai mobil listik. Akan menyusul untuk pemompa (kejut) jantung dan implan medis lainnya.

WiTricity hampir lima tahun menggunakan teknologi yang dikembangkan di MIT (Massachusetts Institute of Technology) yang memperluas jangkauan nirkabel pengisian induktif.

Teknologi serupa sebenarnya bukanlah hal baru. Nikola Tesla sudah mengenalkannya 100 tahun lalu, dan pengisi daya induktif untuk sikat gigi dan pengendali video games yang sekarang beredar luas.

Tetapi, pengisi daya induktif yang sudah ada di pasaran saat ini bekerja hanya dalam jarak yang sangat pendek dan memerlukan kontak fisik antara pengisi daya dengan perangkat elektronik, tidak jauh lebih nyaman dibanding mencolokkan kabel penghubung, tulis Technology Review.

WiTricity bersama IHI Corporation dan Mitsubishi Motor Corporation sepakat membentuk tim bersama untuk meneliti dan mengembangkan pengisian daya induktif untuk kendaraan listrik.

Tujuan kolaborasi itu untuk membuat kendaraan listrik lebih nyaman bagi pemiliknya, dengan mempercepat memopulerkan dan menjamin ketersediaan pengisian nirkabel di rumah-rumah maupun di tempat-tempat parkir pusat pembelanjaan.

Sistem pengisian nirkabel memungkinkan transfer energi dari sumber yang ditempatkan pada atau di bawah tanah untuk kendaraan yang dilengkapi perangkat penangkap energi.

Pengisian secara otomatis ketika kendaraan diparkir, tanpa kontak fisik antara kendaraan, dan sumber pengisian.

Namun, kemampuan jarak jangkau yang dibutuhkan untuk pengisian lebih efisien masih terus dikembangkan. (KompasTekno)

Sebar dan Bagikan :

Shares

Buah dan Sayur Ampuh Tangkis Kanker

di %s Berita/Informasi 525 views

SEBUAH penelitian di Korea menemukan bahwa buah dan sayuran dapat membantu melindungi tubuh dari serangan kanker usus besar. Senyawa luteolin dan flavonoid yang terdapat banyak di buah dan sayuran terbukti memiliki anti inflamasi, anti oksidan, dan anti kanker.

Dalam penelitian tersebut, disimpulkan bahwa bahwa luteolin mampu menghambat aktivitas jalur sel sinyal (IGF dan PI3K) yang penting untuk pertumbuhan kanker pada sel kanker usus besar.

Para peneliti dari Korea menunjukkan bahwa luteolin mampu memblokir sekresi IGF-II oleh sel kanker usus besar dan dalam waktu dua jam dengan cara menurunkan jumlah reseptor (IGF-IR) protein precursor, selain itu Luteolin juga mengurangi jumlah reseptor aktif (diukur dengan IGF-I fosforilasi).

Penelitian yang dipimpin oleh Prof Han Jung Yoon Taman, menemukan bahwa sel luteolin yang terkena jalur sinyal yang diaktifkan oleh IGF-I pada kanker dan Luteolin menghambat efek stimulasi pertumbuhan IGF-I.

“Studi kami, menunjukkan bahwa luteolin mengganggu sel sinyal pada sel kanker usus besar,” kata Yoon Taman.

Hasil penelitian tersebut menjadi penambah deret bagaimana pentingnya konsumsi buah dan sayuran dalam kehidupan sehari-hari, agar terbebas dari beragam penyakit, khususnya kanker (MediaIndonesia)

Sebar dan Bagikan :

Shares

Buku Tiga Dimensi Hasil Riset

di %s Berita/Informasi 513 views

Tingkat keterbacaan yang rendah terhadap hasil-hasil riset LIPI dibenahi dengan menyajikan ke dalam program Buku Tiga Dimensi. Dengan berbasis situs internet, program ini dapat dinikmati layaknya memegang buku yang diimbuhi tautan streaming film audiovisual hasil riset atau rekayasa animasinya.

Saat ini baru tergarap sekitar 70 buku dari hasil riset menjadi buku tiga dimensi,” kata peneliti sistem informasi pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), Slamet Riyanto, Kamis (9/2), di Jakarta.

Ia mengatakan, baru tahun 2011 program Penelitian Pengembangan Framework Database Buku Tiga Dimensi dijalankan. Program ini untuk mengembangkan sistem buku elektronik dengan format tiga dimensi, terutama untuk hasil- hasil riset LIPI.

Prototipe sistem Buku Tiga Dimensi telah diimplementasikan di situs internet LIPI, yaitu www.web.lipi.go.id/ebooklipi. Di situs itu disebutkan terdapat 34 buku mengenai biologi, 19 buku geologi, satu buku pertanian, dan satu buku sejarah.

”Konsep tiga dimensi terletak pada sajian konten yang menyerupai buku. Tetapi, program ini masih membutuhkan banyak pengembangan,” kata Slamet.

Pengembangan yang ditargetkan, menurut dia, antara lain tautan ke streaming video pada situs www.bit.lipi.go.id/streaming. Kemudian animasi gerak dari hasil-hasil riset sehingga mudah dicerna masyarakat.

Slamet memberikan ilustrasi animasi dari hasil riset pengelolaan air tawar di pulau kecil. Animasi tersebut menggambarkan mekanisme mendapatkan air tawar dari lapisan bawah tanah di sebuah pulau kecil.

”Model animasi hasil riset pengelolaan air tawar di pulau kecil seperti ini lebih mudah dipahami masyarakat daripada membaca jurnal atau hasil riset ilmiah tersebut,” kata Slamet.

Optimalisasi

Peneliti sistem informasi PDII LIPI lain, Hendro Subagyo, mengatakan, program Buku Tiga Dimensi adalah optimalisasi penyampaian hasil riset ilmiah dari para peneliti LIPI. Tanpa disadari, termasuk oleh pemerintah, selama ini hasil riset yang bernilai, atau setidaknya dibuat dengan dana tidak sedikit, kerap kali terbengkalai tak termanfaatkan.

”Laporan penelitian yang dikerjakan dengan anggaran puluhan hingga ratusan juta rupiah selalu harus disajikan ke dalam teks laporan minimal enam halaman. Tetapi, pemanfaatannya masih sangat rendah,” kata Hendro.

Putut Irwan Pudjiono, mantan Kepala PDII LIPI, mengatakan, penyampaian hasil-hasil riset agar mudah dicerna dan diterapkan masyarakat menjadi sangat penting. Di situ peran penting multimedia, seperti dengan membuat program Buku Tiga Dimensi ini.

Menurut Putut, kehilangan inventaris yang berbentuk seperti meja atau kursi milik pemerintah justru lebih dipedulikan daripada kehilangan laporan hasil riset yang berbentuk lembaran kertas.

”Hilangnya laporan hasil riset atau tidak bisa dimanfaatkannya hasil riset seperti tidak pernah dipermasalahkan. Penyajian melalui program Buku Tiga Dimensi, selain memudahkan masyarakat untuk mencerna hasil penelitian, juga untuk memelihara hasil-hasil riset yang dimiliki,” kata Putut. (KompasTekno)

Sebar dan Bagikan :

Shares
Go to Top